Pengertian Pasar Monopsoni Adalah : Ciri - Ciri, Contoh, dan Struktur Pasarnya

Pada kesempatan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa berdasarkan sifat dan bentuknya, pasar dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu: pasar persaingan sempurna (perfect competitive market) dan  pasar dengan persaingan tidak sempurna (imperfect competitive market). Salah satu jenis pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar monopsoni.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas secara lengkap semua hal terkait dengan pasar monopsoni berdasarkan pendekatan beberapa teori dan juga disertai kurva - kurva untuk memudahkan dalam pemahaman.

Pengertian Pasar Monopsoni Adalah


Secara umum, pengertian pasar monopsoni adalah salah satu bentuk pasar persaingan tidak sempurna dimana dalam pasar tersebut hanya ada satu pembeli dengan banyak penjual. Pembeli dalam pasar disini bertindak sebagai penguasa dalam pasar dan umumnya dia adalah pengusaha yang menampung produk - produk yang dihasilkan oleh para pengusaha kecil. Kondisi dimana terdapat banyak penjual dengan hanya ada satu pembeli sebagai puasa pasar mengakibatkan potensi persaiangan dalam pasar menjadi tidak sehat.

Pasar monopsoni juga dapat disebut sebagai kebalikan dari pasar monopoli yang hanya ada satu penjual dengan banyak pembeli. Di indonesia, bentuk pasar yang demikian telah dilarang oleh pemerintah melalui Undang-undang Pasal 18 No. 5 Tahun 1999, yang menjelaskan bahwa:

  • Pelaku usaha dilarang menguasai pasokan atau menjadi pembeli tunggal atau barang atau jasa di dalam pasar yang bisa mengakibatkan terjadinya praktik monopoli atau persaingan usaha yang tidak sehat.
  • Pelaku usaha patut untuk di duga atau di anggap menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal sebagai mana dalam ayat (1) apabila pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha telah menguasai lebih dari 50% pangsa pasar suatu jenis barang atau jasa tertentu.

Ciri - Ciri Pasar Monopsoni


Terdapat beberapa ciri yang membedakan antara pasar monopsoni dengan jenis pasar yang lainnya. Berikut adalah ciri cirinya:

1.  Hanya Terdapat Satu Pembeli

Kebalikan dari pasar monopoli, didalam pasar monopsoni hanya ada satu pembeli yang menampung seluruh produk yang dihasilkan oleh para produsen dalam pasar tersebut. Sehingga, pembeli memiliki wewenang dalam menentukan harga serta kualifikasi produk yang diharapkan.

Para produsen dalam pasar ini bersifat hanya menerima kualifikasi produk dan harga yang di inginkan oleh pembeli. Suka atau tidak suka, produsen harus tetap menjualnya kepada pembeli tersebut untuk dapat tetap bertahan dalam mencapai keuntungan produksi.

2. Pembeli Bersifat Sebagai Price Maker

Harga dalam sebuah pasar ditentukan oleh pihak yang dominan atau memiliki kekuatan dalam pasar. Dalam pasar oligopoli pihak yang memiliki kekuatan  dalam mempengaruhi harga dalam pasar oligopoli adalah pembeli. Jadi sifat pembei disini adalah sebagai price maker. Semakin banyak produsen yang menawarkan produknya kepada pembeli maka akan semakin kuat sifat price maker seorang pembeli.

Walaupun demikian, pembeli juga harus memperhatikan harga standar yang berlaku di pasar. Artinya pembeli juga harus memperhatikan keuntungan para produsen agar dapat menutupi biaya produksinya, sehingga produsen tetap bisa menawarkan produknya kepada pembeli dan pembeli memperoleh manfaat atas produk yang dihasilkan oleh para produsen.

3. Produk Homogen dan Berupa Row Material (Bahan Mentah)

Umumnya, produk yang beredar dalam pasar monopsoni ini adalah produk yang bersifat homogen dan row material, mudah rusak dan busuk, lokasi terpencil, dan lain sebagainya yang mengharuskan para produsen untuk segera menjualnya kepada pembeli untuk memperoleh laba. Produk - produk tersebut dapat berupa sayur - sayuran , hasil perkebunan seperti tembakau, susu segar di pegunungan, dan lain sebagainya.

4. Sering Terjadinya Konflik

Konflik sering terjadi dalam pasar monopsoni ini. Hal tersebut dikarenakan pembeli sering bertindak semena - mena dan semaunya dalam membeli produk yang di hasilkan oleh para produsen. Sering pembeli bersikap rasis dalam membeli produk yang mengakibatkan produk beberapa perusahaan lain tidak terbali oleh pembeli tersebut.

Selain itu, harga juga menjadi salah satu konflik dalam pasar ini. Pembeli ingin memperoleh produk sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan dengan harga yang paling murah. Hal ini sering bertentangan dengan para produsen. Para produsen rela untuk perang harga agar produk yang dihasilkannya diterima oleh pembeli. Dan kondisi yang demikian mengakibatkan persaingan tidak sehat.

Contoh Pasar Monopsoni


Salah satu contoh pasar monopsoni yang mudah untuk kita jumpai adalah pasar susu segar di daerah pegunungan (misalnya). Susu segar merupakan produk yang tidak tahan lama dan akan cepat rusak apabila tidak segera dioleh. Lokasi pegunungan menjadi hambatan para peternak untuk menjual susu segarnya langsung ke kota. Oleh karena itu, mereka menjual susu sapi segarnya ke pengepul.

Para peternak sapi perah setiap hari akan menjual susu segarnya kepada para pengepul dengan ketentuan dan harga yang telah ditentukan oleh pengepul. Dalam pasar ini, pengepul merupakan pengusaha yang memiliki modal besar dan teknologi tinggi untuk mengumpulkan susu sapi segar yang di hasilkan oleh para peternak pegunungan.

Namun, dalam pasar tersebut sering terjadi konflik yang diakibatkan karena adanya permainan harga. Pada suatu ketika pengepul menurunkan harga dan suatu ketika meningkatkan harga. Hal tersebut membuat para peternak mengalami kerugian akibatnya.

Struktur Pasar Monopsoni


Untuk memproduksi suatu barang pengusaha mempergunakan faktor-faktor produksi. Dan untuk mendapatkan faktor-faktor produksi itu ia dapat membelinya secara bersaing dengan pengusaha-pengusaha lain yang juga memerlukan faktor-faktor produksi bersangkutan, atau dalam keadaan tertentu, ia dapat merupakan pembeli tunggal dari suatu faktor produksi.

Apabila seorang pengusaha membeli suatu faktor produksi secara bersaing sempurna dengan pengusaha-pengusaha lain, maka ia secara perseorangan tidak bisa mempengaruhi harga dari faktor produksi itu. Misalkan penawaran dari suatu faktor produksi x ditunjukkan oleh fungsi dibawah ini:

X = f (Px)

dimana X = jumlah faktor produksi yang ditawarkan, Px = harga dari faktor produksi itu sedang f adalah “fungsi dari”. Bagi pengusaha tadi yang bertujuan mencapai keuntungan maksimum, berlakulah syarat-syarat dibawah ini:

Y = f (X)

Fungsi produksi dari pengusaha

Ï€ = PYY – x.Px

Fungsi keuntungan dari pengusaha.

Dengan anggapan bahwa pengusaha tadi menjual produksinya di pasar dengan persaingan sempurna dan juga membeli faktor produksi di pasar dengan persaingan sempurna, maka agar π mencapai maksimum, berlakulah syarat-syarat ini:

dπ / dx = Py (dy/dx) - px = 0

Py (dy/dx) = Px

Py (dy/dx) adalah nilai produk marjinal ditinjau dari faktor produksi X yang dipakai. Jadi pengusaha itu akan membeli dan mempergunakan faktor produksi X dalam jumlah demikian rupa hingga nilai produk marjinal dari faktor tersebut sama dengan harga faktor produksi bersangkutan. Hal ini telah kita bicarakan dalam teori produksi. Perhatikanlah gambar di bawah ini.

Kurva Permintaan Faktor Produksi

Apabila harga faktor produksi X adalah P1 maka pengusaha akan membeli dan mempergunakan faktor produksi tersebut sejumlah X1. Kalau harga faktor naik menjadi P2, maka jumlah yang akan dibeli dan dipakai oleh pengusaha ialah X2. 

Dan sebaliknya, apabila harga turun menjadi P3, maka jumlah yang dibeli dan dipakai oleh pengusaha X3. Dalam semua keadaan itu, nilai produk marjinal dari faktor X sama dengan harga faktor itu. Dari analisa diatas jelaslah, bahwa bagi pengusaha yang membeli faktor produksi di pasar dengan persaingan sempurna maka kurva nilai produk marjinal dari faktor itu merupakan kurva permintaan untuk faktor produksi bersangkutan.

Bagaimanakah keadaannya apabila pengusaha merupakan pembeli tunggal dari faktor produksi itu? Dengan perkataan lain, pengusaha itu merupakan pengusaha monopsoni? Pengusaha monopsoni itu sekarang harus menghadapi kurva penawaran dari faktor produksi yang akan dibelinya. Pada umumnya kurva penawaran ini bersudut positif. 

Bagi pengusaha monopsoni akan berlaku syarat-syarat di bawah ini, apabila ia bertujuan mencapai keuntungan maksimum.

Ï€ = PY.Y – X.Px

Fungsi keuntungan dari pengusaha

Y = f (X)
Fungsi produksi dari pengusaha

X = g (Px)

Px= j (X)

fungsi penawaran faktor produksi yang dihadapi oleh pengusaha monopsoni, dimana  dPx/dX  > 0, apabila diasumsikan bahwa kurva penawaran itu bersudut positif.

dÏ€ / dx = Py (dy/dx) - (Px + (dPx/dX)) = 0

Karena dPx/dX  > 0 , maka (Px + (dPx/dX)) >Px

Py (dY/dX) = Px + (X (dPx/dX))

Py (dY/dX) = nilai produk marginal (ditinjau dari faktor produksi) = value marginal product (VMP)

PX    = harga faktor produksi, yang ditunjukkan oleh kurva penawaran:

PX    = j (X)

(Px + (dPx/dX))  = biaya faktor marginal (marginal factor cost = MFC)

Jadi, untuk mendapatkan keuntungan maksimum pengusaha monopsoni akan membeli dan mempergunakan faktor produksi sampai sesuatu jumlah dimana nilai produk marjinal faktor itu sama dengan biaya faktor marjinal dari faktor bersangkutan. 

Dan apabila dianggap bahwa kurva penawaran faktor produksi itu bersudut positif, maka kurva biaya faktor marjinal selalu berada di sebelah atas dari kurva penawaran faktor produksi bersangkutan. Keadaan diatas dapat dijelaskan dengan gambar dibawah ini.

Kurva-Kurva Nilai Produk Marjinal dan Biaya Faktor Marjinal pada Pengusaha Monopsoni

Di titik A akan terdapat kesamaan antara VMP =MFC. Dari titik A ditarik garis vertikal yang memotong kurva penawaran faktor produksi di titik B dan memotong sumbu horisontal di titik X1. Tariklah garis-garis horisontal msing-masing dari titik A dan B, sehingga berturut-turut memotong sumbu vertikal di titik P2 dan P1. Dari analisa diatas, untuk mendapatkan keuntungan maksimum maka pengusaha monopsoni akan membeli dan mempergunakan faktor produksi sebanyak X1, sedang harga yang dibayar sebesar P1. 

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa harga faktor produksi yang dibayar oleh pengusaha monopsoni itu adalah P1, sedang nilai produk marjinal yang ditimbulkan oleh pemakainan faktor produksi itu ialah P2, dimana P2 selalu lebih besar dari pada P1 (dengan anggapan kurva penawaran bersudut positif). Selisih P2 dan P1 itu disebut eksploitasi monopsonistik (monopsonistic exploitation), yang dianggap sebagai kerugian yang dialami oleh pemilik faktor-faktor produksi.

Posting Komentar

0 Komentar